Salat Istisqa Digelar di Semarang, Warga Berharap Hujan Segera Turun

Sosial13 Dilihat

LIPUTANJATENG.COM – Warga Kelurahan Manyaran, Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang, menggelar salat Istisqa di Alun-alun Panjangan, Minggu (4/9/2026). Salat tersebut menjadi ikhtiar warga untuk memohon hujan di tengah kemarau panjang yang memicu kekeringan dan kebakaran.

Jemaah dari sekitar Masjid Baitul Iman mulai berkumpul sejak pagi. Salat Istisqa berlangsung sekitar pukul 10.00 WIB dan diawali dengan khotbah dari imam.

Wakil Wali Kota Semarang Iswar Aminuddin turut mengikuti salat tersebut. Ia mengatakan kegiatan itu menjadi bentuk ikhtiar bersama masyarakat untuk menghadapi kondisi kemarau yang cukup panjang.

“Ini bersama dengan warga sekitar Masjid Baitul Iman melaksanakan salat memohon hujan. Ini ikhtiar kita, bagian dari semangat kita,” ujar Iswar di Masjid Baitul Iman, Minggu (4/9/2026).

Iswar menyebut kondisi kemarau tahun ini telah menimbulkan berbagai dampak. Ia mengatakan informasi BMKG memperkirakan musim kemarau masih berlangsung hingga November.

Menurutnya, kondisi panas dan kekeringan telah menyebabkan berbagai kerusakan di sejumlah wilayah. Karena itu, ia berharap doa dan salat Istisqa dapat menjadi ikhtiar bersama agar hujan segera turun.

“Mudah-mudahan kekeringan ini dapat segera teratasi,” katanya.

Salat Istisqa untuk Kebakaran TPA Jatibarang

Selain memohon hujan, salat Istisqa di Semarang juga menjadi ikhtiar warga agar kebakaran di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatibarang segera teratasi.

Iswar mengatakan api di TPA Jatibarang mulai padam sejak malam sebelumnya. Namun, petugas masih harus melakukan antisipasi karena suhu di bawah permukaan tumpukan sampah masih tinggi.

“Sudah padam sejak semalam. Cuma memang harus diantisipasi karena suhu di bawah itu kalau kita lihat dari drone thermal, kelihatan suhunya masih tinggi. Sewaktu-waktu itu bisa memunculkan api lagi,” jelasnya.

Ia menjelaskan sejumlah titik di bawah permukaan tumpukan sampah masih menyimpan panas. Kondisi tersebut berpotensi memicu gas metana yang dapat menyebabkan api kembali muncul.

“Kalau kita bisa melihat lewat thermal itu hampir semua lokasi di Jatibarang suhunya begitu panas di bawah. Artinya gas metana ini kan masih sangat berbahaya, berpotensi untuk kembali mengeluarkan api,” ujarnya.

Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) masih melakukan langkah antisipasi di lokasi. Pemerintah Kota Semarang berharap kebakaran di TPA Jatibarang tidak kembali terjadi.

Iswar juga menyampaikan harapan agar hujan yang turun nantinya membawa keberkahan sekaligus membantu mengatasi kondisi kemarau.

“Semoga Allah berkenan menurunkan hujan dengan hujan yang ‘midron’ yaitu deras, ‘mansuron’ memberikan pertolongan, ‘masruron’ menyenangkan, ‘mubarakan’ yang berkah, ‘mughisan’ yang meneteskan ke dalam hati, menjadi sejuk,” tuturnya.

Imam Ajak Warga Peduli Lingkungan

Imam sekaligus khatib salat Istisqa, Danusiri, mengatakan kegiatan tersebut tidak hanya menjadi sarana umat Islam untuk memohon hujan. Ia juga mengajak masyarakat melakukan introspeksi terhadap kondisi lingkungan.

Menurut Danusiri, kerusakan lingkungan dan ekosistem dapat terjadi akibat kelalaian manusia. Ia mengajak masyarakat mengambil pelajaran dari berbagai bencana yang terjadi.

“Kerusakan bumi, kerusakan ekologi, kerusakan ekosistem itu lebih banyak akibat perbuatan kecerobohan kita sendiri,” kata Danusiri.

Ia menyebut kebakaran, banjir, hingga kekeringan panjang dapat menjadi momentum bagi masyarakat untuk kembali memperhatikan lingkungan. Karena itu, ia meminta warga lebih berhati-hati dalam menjaga lingkungan sekaligus meningkatkan keimanan.

“Kami mengimbau seluruh warga Kota Semarang lebih hati-hati di dalam merawat lingkungan kita. Kemudian secara khusus agar segera Allah berkenan menurunkan hujan,” ujarnya.

Warga Berharap Hujan Segera Turun

Salah satu jemaah salat Istisqa, Sri Mulyati (40), mengatakan rumahnya tidak terlalu terdampak asap kebakaran TPA Jatibarang. Namun, asap sempat terlihat mencapai kawasan tempat tinggalnya yang berjarak sekitar 4 kilometer dari lokasi TPA.

“Kalau di sini tidak begitu terdampak. Kalau dari teman-teman yang di Ngaliyan mereka sangat merasakan asap itu. Kalau di sini alhamdulillah hanya sekadar kabut-kabut asap kalau pagi,” ujar Sri.

Sri mengikuti salat Istisqa sebagai bentuk kepedulian terhadap warga yang terdampak kebakaran dan kemarau panjang. Ia berharap hujan segera turun sehingga kondisi lingkungan kembali membaik.

“Karena kepedulian kami sesama umat, sesama manusia. Kita punya inisiasi untuk saling peduli bahwasanya jika kebakaran itu sampai dirasakan oleh warga sekitar, kita kasihan,” katanya.

Ia juga berharap hujan dapat membantu mengatasi dampak kebakaran di TPA Jatibarang dan mengurangi gangguan yang dirasakan masyarakat.

“Harapannya Allah segera menurunkan rahmat sehingga alam ini tidak kering. Kemudian kalau dari bencana kebakaran ini, mudah-mudahan segera padam sehingga masyarakat tidak terganggu,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *