LIPUTANJATENG.COM – Kekeringan Jawa Tengah masih terjadi di sejumlah wilayah hingga akhir September 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat beberapa daerah mengalami hari tanpa hujan (HTH) kategori menengah hingga ekstrem.
BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Tengah mencatat periode tanpa hujan terpanjang mencapai 150 hari atau sekitar lima bulan. Kondisi tersebut terjadi di Kecamatan Masaran, Kabupaten Sragen.
Kepala Tim Kerja Layanan Data dan Informasi BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Tengah, Sulistiyowati, mengatakan data tersebut merupakan pembaruan kondisi hujan hingga 30 September 2026.
Menurutnya, BMKG memperbarui data wilayah yang mengalami hari tanpa hujan setiap 10 hari.
“Yang terpanjang hari tanpa hujan itu terjadi di Kecamatan Masaran, Kabupaten Sragen, itu 150 hari. Kemudian Kecamatan Jatisrono, Kabupaten Wonogiri, 149 hari,” kata Sulistiyowati melalui sambungan telepon, Jumat (2/10/2026).
BACA JUGA
Kekeringan Ekstrem di Sejumlah Daerah
Selain Sragen dan Wonogiri, periode hari tanpa hujan yang cukup panjang juga terjadi di sejumlah wilayah lain di Jawa Tengah.
Kecamatan Juwiring, Kabupaten Klaten, dan Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri, masing-masing mencatat 137 hari tanpa hujan.
Sulistiyowati menjelaskan kondisi kekeringan Jawa Tengah hingga akhir September masih berada pada kategori menengah hingga sangat ekstrem.
BMKG menggunakan periode lebih dari 60 hari tanpa hujan sebagai salah satu indikator kekeringan ekstrem. Artinya, wilayah yang tidak mendapatkan hujan selama lebih dari dua bulan perlu mendapat perhatian khusus.
Menurut Sulistiyowati, hujan yang turun di beberapa daerah belum otomatis mengakhiri kekeringan. Curah hujan yang rendah hanya dapat memutus catatan hari tanpa hujan, sementara kondisi ketersediaan air masih perlu diwaspadai.
“Kalau sudah hujan itu memang mematahkan hari tanpa hujannya, tetapi bukan berarti setelah itu terus ada hujan lagi. Dari kriteria curah hujannya masih rendah,” jelasnya.
Curah Hujan Masih Rendah
Beberapa wilayah sekitar pegunungan, termasuk Grobogan dan Blora, sebelumnya telah mendapatkan hujan. Namun, curah hujan di sejumlah lokasi masih tercatat kurang dari 20 milimeter.
Kondisi tersebut membuat masyarakat tetap perlu mewaspadai dampak kekeringan. Terutama terkait kondisi tanah dan ketersediaan air untuk kebutuhan sehari-hari.
Sulistiyowati menjelaskan kondisi kemarau saat ini dipengaruhi sejumlah faktor. Salah satunya aktivitas El Nino yang masih kuat serta monsun Australia atau angin timuran yang masih aktif.
“(Pemicunya) El Nino yang masih kuat dan aktivitas monsun Australia atau angin timuran juga masih aktif. Ini juga puncaknya musim kemarau,” ujarnya.
Monsun Australia membawa massa udara yang relatif kering sehingga turut memengaruhi kondisi atmosfer di Indonesia, termasuk Jawa Tengah.
BMKG memperkirakan musim hujan mulai masuk secara bertahap pada akhir Oktober hingga November. Waktu masuknya musim hujan dapat berbeda antara satu wilayah dengan wilayah lainnya.
BMKG Ingatkan Bahaya Kebakaran
BMKG meminta masyarakat tetap waspada terhadap dampak kekeringan Jawa Tengah. Salah satu risiko yang perlu diperhatikan adalah kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Masyarakat juga diminta menghindari aktivitas yang dapat memicu kebakaran di wilayah kering. Salah satunya membuang puntung rokok secara sembarangan.
Selain ancaman karhutla, masyarakat perlu menghemat penggunaan air bersih selama kondisi kemarau masih berlangsung.
“Air bersih juga bijak dalam pengelolaan air bersihnya. Karena memang masih kering saat ini,” imbaunya.
BMKG juga mengingatkan masyarakat untuk mengikuti informasi peringatan dini cuaca dan iklim. Informasi tersebut penting untuk mengetahui perkembangan kondisi cuaca menjelang masa peralihan dari musim kemarau ke musim hujan.







