Kota Lama Semarang Puncaki Daftar Destinasi Favorit Saat Libur Sekolah

Wisata74 Dilihat

Semarang – Kawasan bersejarah yang kerap dijuluki “Little Netherland” ini kembali mengukuhkan posisinya sebagai destinasi paling diminati selama masa libur sekolah tahun 2026. Berdasarkan data resmi Dinas Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif Jawa Tengah, jumlah kunjungan ke Kota Lama Semarang melonjak signifikan hingga menembus angka hampir 236 ribu orang. Angka ini menandai kenaikan sekitar 40–50 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Kepala Disbudparekraf Jateng, Hanung Triyono, menyampaikan bahwa lonjakan ini menjadi bukti kuat bahwa kawasan bersejarah masih memiliki daya tarik tinggi bagi berbagai kalangan pengunjung. Baik wisatawan domestik maupun mancanegara memilih Kota Lama sebagai tujuan utama untuk berlibur sekaligus mengenal jejak sejarah panjang Kota Semarang.

Rata-Rata 21.700 Orang Per Hari

Pendataan dilakukan sejak awal masa libur sekolah, sekitar pertengahan Juni hingga Selasa, 7 Juli 2026. Dalam rentang waktu itu, tercatat rata-rata 21.700 orang mengunjungi kawasan ini setiap harinya. Rinciannya, sebanyak 235.900 orang berasal dari wisatawan nusantara, sementara sisanya sekitar 2.400 orang adalah wisatawan mancanegara.

Jika dibandingkan dengan tahun 2025, peningkatan ini sangat nyata. Pada periode yang sama, jumlah kunjungan tercatat hanya berkisar antara 155 ribu hingga 168 ribu orang. Kenaikan mendekati setengahnya ini menjadikan Kota Lama menempati urutan teratas di antara semua destinasi wisata di Jawa Tengah sepanjang libur sekolah kali ini.

“Kalau kita lihat di seluruh wilayah Jawa Tengah, destinasi yang paling banyak dikunjungi saat ini tetap Kota Lama dan sekitarnya. Lokasinya strategis, mudah dijangkau, serta menawarkan pengalaman yang berbeda dibanding tempat wisata alam biasa,” jelas Hanung saat dihubungi, Rabu (8/7/2026).

Secara keseluruhan, kunjungan wisatawan ke seluruh Jateng selama libur sekolah 2026 tercatat naik sekitar 45 persen menjadi lebih dari 1,46 juta orang. Kota Lama menjadi penyumbang terbesar, mengungguli destinasi populer lain seperti Candi Prambanan, Dataran Tinggi Dieng, dan Candi Borobudur.

Lebih dari Sekadar Foto Bersejarah

Kota Lama Semarang bukan sekadar kumpulan bangunan tua. Kawasan ini merupakan saksi bisu perkembangan kota sejak abad ke-17, ketika Kesultanan Mataram menyerahkan wilayah ini kepada VOC sebagai bentuk pembayaran bantuan militer. Sejak saat itu, Semarang berkembang menjadi pusat administrasi dan perdagangan utama di pesisir utara Pulau Jawa.

Bangunan-bangunannya memadukan gaya arsitektur khas Eropa, mulai dari Neoklasik hingga Art Deco, dengan tata ruang jalan yang teratur dan lebar. Beberapa ikon yang menjadi daya tarik utama antara lain Gereja Blenduk yang berdiri sejak 1753, Gedung Jiwasraya, Jembatan Berok, hingga deretan kafe dan galeri seni yang menempati rumah-rumah kolonial yang sudah direnovasi.

Tak hanya soal arsitektur, suasana di kawasan ini juga kian hidup. Berbagai aktivitas tersedia, mulai dari tur jalan kaki mengenal sejarah, pameran seni, hingga kuliner khas yang tersebar di sepanjang jalan utama. Bagi keluarga, tempat ini juga menjadi sarana edukasi yang menyenangkan untuk memperkenalkan sejarah kota kepada anak-anak.

Dampak Ekonomi dan Upaya Pengelolaan

Meningkatnya jumlah pengunjung otomatis mendongkrak roda perekonomian lokal. Para pedagang makanan, penyewaan sepeda antik, pengelola jasa pemandu wisata, hingga pengusaha akomodasi merasakan dampak positifnya. Tingkat hunian hotel di sekitar pusat kota Semarang selama periode ini tercatat mencapai lebih dari 85 persen.

Pemerintah Kota Semarang bersama provinsi terus melakukan pembenahan agar lonjakan ini tidak mengorbankan kenyamanan dan keaslian kawasan. Peningkatan fasilitas umum, penataan lalu lintas, serta pembatasan kendaraan bermotor di zona inti terus disempurnakan. Tujuannya agar keseimbangan antara pelestarian cagar budaya dan kebutuhan pariwisata tetap terjaga.

“Kami tidak hanya mengejar angka kunjungan semata. Yang paling penting adalah bagaimana menjadikan kawasan ini tetap lestari dan memberikan manfaat nyata bagi warga sekitar,” tambah Hanung. Ia juga mengimbau pengunjung agar tetap menjaga kebersihan, tidak merusak fasilitas, serta mengikuti aturan yang berlaku saat menjelajahi Kota Lama.

Proyeksi dan Harapan ke Depan

Mengingat tren peningkatan yang terus berlanjut sejak awal tahun ini, Kota Lama diproyeksikan tetap menjadi lokasi andalan dalam kalender pariwisata Jateng. Bahkan, dalam beberapa bulan ke depan, direncanakan sejumlah acara budaya dan pameran tematik untuk semakin memperkaya pengalaman wisatawan.

Dengan posisinya yang semakin kuat, kawasan ini diharapkan bisa menjadi contoh bagaimana warisan sejarah dapat dihidupkan kembali sebagai penggerak ekonomi daerah. Keberhasilan mengelola tempat bersejarah seperti ini juga menjadi modal penting bagi Jawa Tengah untuk terus bersaing dalam industri pariwisata nasional.

Periode libur sekolah tahun ini belum sepenuhnya berakhir, sehingga kemungkinan angka kunjungan masih bisa bertambah hingga akhir masa cuti sekolah. Namun, capaian yang sudah tercatat sejauh ini cukup membanggakan dan menegaskan kembali bahwa Kota Lama Semarang memang tak pernah kehilangan pesonanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *