Soleh Amini Yahman
Sa207@ums.ac.id
Dosen Fakultas Psikologi UMS
Judul tulisan ini bukan untuk mempertanyakan perintah Allah SWT di dalam
Al Quran surat al baqarah ayat 183. “wahai orang-orang yang beriman,
diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan juga atas orang-orang
sebelum kamu agar kamu menjadi orang yang beriman”. Jika rujukannya pada ayat terebut maka
jelasalah jawaban atas pertanyaan mengapa harus berpuasa, yaitu agar menjadi orang yang bertaqwa.
Puasa ramadahan adalah madrasah tertinggi dalam mencerdasakan
kehidupan kejiwaan manusia. Makna puasa
secara syar’i adalah mencegah dari makan
dan minum atau hal lain yang membatalkan
puasa dari sejak terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari. Jika puasa
hanya dimaknai dan dijalankan sebatas pengertian tersebut maka sesungguhnya
manusia telah melakukan amalan yang sia-sia. Dalam pengertian ini puasa tidak
akan memberi pengaruh positif bagi upaya pencerdasan kehidupan jiwa, sehingga
jiwa mulia yang diharapakan muncul sebagai efek amalan puasa tidak terjadi.
Jiwa tetap menjadi bebal, baik secara spiritual maupun secara sosial dan
kultural. Dalam kontek yang demikian ini, puasa justru akan menjebak manusia
untuk melakukan hal yang kontra produktif dan ritualitas peribadahan yang semu.
Ketika Allah memerintahkan manusia untuk berpuasa, sesungguhnya
Allah memerintahkan manusia agar bersekolah. Artinya puasa hendaknya dijadikan
sebagai madrasah, yaitu tempat belajar
menahan hawa nafsu, menahan berbagai bentuk keinginan yang berlebihan dan
mengendalikan diri dari segala keburukan. Sehingga manusia terselamatkan dari
kebodohan yang paling bodoh, yaitu kekufuran dan ketidakberimanan atas
keagungan, keesaaan dan kemuliaan Allah. Maka agar tidak menjadi bodoh,
diperintahkanlah manusia untuk berpuasa, karena puasa itu madrasah ruhaniyah.
Tujuan utama berpuasa yang sebenarnya adalah memberi
kesempatan kepada manusia untuk
memperbaharui diri dan sekaligus menciptakan kehidupan yang lebih baik,
sehingga mewujut kualitas taqwa dalam kehidupannya. Untuk mencapai tujuan
tersebut tidak ada jalan lain kecuali dengan mentarbiyahkan jiwa ruhaniyahnya , sehingga terwujut intelektualitas
kejiwaan yang unggul. Dengan intelektualitas ini manusia dapat menerima
kebenaran dan membenarkan ajaran-ajaran Allah, sehingga dirinya tergolong
sebagai orang yang ulil albab.
Orang-orang ulil albab inilah yang
dimaksud sebagai orang yang tataqun sebagaimana
dimaksud dalam surah Al Baqarah ayat 183.
Dalam proses pembelajaran di madrasah ini , puasa mempunyai dimensi
sosial dan dimensi spiritualitas. Artinya puasa tidak hanya mengajarkan manusia
untuk menyembah dan berbakti kepada Allah saja. Puasa juga membawa ajaran untuk
mengembangkan perilaku-perilaku humanis dan filantropis yang bersifat horizontal.
Puasa membawa ajaran untuk mengembangkan
nilai keseimbangan ruhaniah dan jasadiyah. Dengan kata lain puasa tidak
hanya berdimensi ibadah vertikal (menyembah Allah) tapi juga mengajarkan bagaimana bersikap empatik
terhadap derita orang miskin yang sering merasakan lapar karena kemiskinannya.
Pelajaran atau ibrah yang
muncul dari puasa jasadiah ini adalah bagaimana rasanya lapar dan dahaga
mempengaruhi perilaku seseorang. sehingga dengan adanya pengalaman secara nyata
yang dirasakan ini akan membawa kepada perubahan perilaku yang lebih baik. Orang
yang mau berfikir akan menjadikan
pengalaman ini sebagai landasan
untuk mengembangkan perilaku empatik
terhadap orang-orang miskin yang sering merasa lapar dan dahaga karena
kemiskinannya. Secara psikologis perilaku empatik yang muncul karena
pengalaman yang nyata ini akan
menghindarkan seseorang dari perilaku pelit, congkak, sombong atau takabur.
Sebaliknya akan membawa seseorang pada perilaku syukur, kona’ah dan tawadu’,
suka bersedekah, menjadi penyayang dan tahu diri. Puasa seharusnya melahirkan
manusia-manusia yang berbudi pekerti luhur, ditunjukkan dengan sikap empatik,
simpatik, jujur, adil, tenggang rasa, ramah, belas kasih, menghargai orang
lain, suka bersedekah, lebih giat beribadah dan lain-lain. Sedangkan pada aspek
ruhuhiyahnya hanya Allah yang berhak
menilai.
Dengan demikian di antara hikmah penting dari ibadah puasa ramadhan
adalah mendidik umat untuk mampu menjaga dan menjalani kehidupan bersama yang
damai, cerdas secara sosial, berkeseimbangan antara perilaku duniawiah dan ukhrowiyahnya , tidak membeci pemeluk agama yang berbeda, sehingga
idialitas masyarakat yang baldatun toyyibatun warobbul ghofur
dapat terwujut dalam kehidupan umat.
Kekeringan
Ruhaniah
Menempatkan puasa
sebagai sekolah jiwa atau madrasah
ruhaniyah, sangat tepat bila dikaitkan dengan kondisi kekinian umat yang
semakin hari semakin kering dari rasa damai dan tentram. Kejahatan korupsi,
terorisme, manipulasi, penipuan dan penyebaran berita berita bohong dan fitnah adalah fenomena kefasikan karena
keringnya rohaniah manusia. Umat tengah menghadapi kemarau ruhaniah yang
panjang. Belakangan ini kekerasan seakan
telah menjadi bagian terbesar dari kehidupan umat. Di rumah, di jalan, di
sekolah, di kantor dan di manapun umat berada kekerasan seakan-akan
menjadi hal yang dilumrahkan karena
sudah terbiasanya manusia melakukan
kefasikan-kefasikan itu, sehingga seakan akan menjadi new normal dalam
perilaku dan kehidupan sehari-hari, dan celakanya hal itu tidak hanya dilakukan
orang dewasa, anak-anak pun melakukannya. Dengan kata lain kekerasan,
kejahatan, kedzoliman tidak lagi hanya dilakukan oleh para penjahat tetapi juga dikerjakan oleh orang-orang yang bukan
penjahat.
Di sinilah urgensi terpenting menempatkan puasa sebagai sekolah
jiwa, sehingga umat benar-benar terselamatkan dari kebodohan dan kemuliaan yang semu serta mampu bertahan
dalam menghadapi penderitaan, tidak mudah putus asa ketika derita dan ujian menghadangnya. Hal inilah yang seharusnya menjadi indek
prestasi kumulatif bagi alumni madrasah ruhaniah yang bernama ‘puasa’.
Melihat persoalan yang demikian ini, maka sudah tiba waktunya untuk
melakukan pembenahan kembali terhadap pemahaman tentang esensi dan substansi
puasa ramadhan. Di tengah menurunnya nilai nilai moral dan kemuliaan ahlak,
bagaimana umat dan seluruh komponen anak bangsa dapat menemukan dan membangun
kembali spirit ramadhan yang bergairah dan penuh makna ? Kata kunci jawaban
dari pertanyaan ini adalah menjadikan puasa sebagai madrasah ruhaniyah yang
bertujuan untuk memajukan ruhaniah manusia yang dengan mudah melakukan dosa ,
menjadi ruhani yang berdaya tahan tinggi terhadap godaan-godaan duniawi. Hanya jiwa-jiwa
yang cerdas saja yang akan mampu menjadikan puasa sebagai pendidikan
ruhaniahnya. Marhaban ya Ramadhan. Kami rindu kesyahduan dan bau harummu. Selamat menjalankan ibadah
puasa ramadhan . Semoga Allah menjadikan kita semua sebagai hamba hamba yang mempnyai
jiwa-jiwa yang cerdas dan mulia.