• Jelajahi

    Copyright © Liputan Jateng
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Mengapa Harus Berpuasa

    Last Updated 2023-03-21T05:00:50Z

     

    Soleh Amini Yahman

    Sa207@ums.ac.id

    Dosen Fakultas Psikologi UMS

    Judul tulisan ini bukan untuk mempertanyakan perintah Allah SWT  di dalam  Al Quran surat al baqarah ayat 183. “wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan juga atas orang-orang sebelum kamu agar kamu menjadi orang yang beriman”.  Jika rujukannya pada ayat terebut maka jelasalah jawaban atas pertanyaan mengapa harus berpuasa,  yaitu agar menjadi orang yang bertaqwa.


    Puasa ramadahan adalah madrasah tertinggi dalam mencerdasakan kehidupan kejiwaan manusia.  Makna puasa secara syar’i  adalah mencegah dari makan dan minum atau hal lain yang membatalkan  puasa dari sejak terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari. Jika puasa hanya dimaknai dan dijalankan sebatas pengertian tersebut maka sesungguhnya manusia telah melakukan amalan yang sia-sia. Dalam pengertian ini puasa tidak akan memberi pengaruh positif bagi upaya pencerdasan kehidupan jiwa, sehingga jiwa mulia yang diharapakan muncul sebagai efek amalan puasa tidak terjadi. Jiwa tetap menjadi bebal, baik secara spiritual maupun secara sosial dan kultural. Dalam kontek yang demikian ini, puasa justru akan menjebak manusia untuk melakukan hal yang kontra produktif dan ritualitas peribadahan yang semu.


    Ketika Allah memerintahkan manusia untuk berpuasa, sesungguhnya Allah memerintahkan manusia agar bersekolah. Artinya puasa hendaknya dijadikan sebagai madrasah, yaitu tempat  belajar menahan hawa nafsu, menahan berbagai bentuk keinginan yang berlebihan dan mengendalikan diri dari segala keburukan. Sehingga manusia terselamatkan dari kebodohan yang paling bodoh, yaitu kekufuran dan ketidakberimanan atas keagungan, keesaaan dan kemuliaan Allah. Maka agar tidak menjadi bodoh, diperintahkanlah manusia untuk berpuasa, karena puasa itu madrasah ruhaniyah.


    Tujuan utama berpuasa yang sebenarnya adalah memberi kesempatan  kepada manusia untuk memperbaharui diri dan sekaligus menciptakan kehidupan yang lebih baik, sehingga mewujut kualitas taqwa dalam kehidupannya. Untuk mencapai tujuan tersebut tidak ada jalan lain kecuali dengan mentarbiyahkan jiwa ruhaniyahnya , sehingga terwujut intelektualitas kejiwaan yang unggul. Dengan intelektualitas ini manusia dapat menerima kebenaran dan membenarkan ajaran-ajaran Allah, sehingga dirinya tergolong sebagai orang yang ulil albab. Orang-orang ulil albab inilah yang dimaksud sebagai orang yang tataqun sebagaimana dimaksud dalam surah Al Baqarah ayat 183.


    Dalam proses pembelajaran di madrasah ini , puasa mempunyai dimensi sosial dan dimensi spiritualitas. Artinya puasa tidak hanya mengajarkan manusia untuk menyembah dan berbakti kepada Allah saja. Puasa juga membawa ajaran untuk mengembangkan perilaku-perilaku humanis  dan filantropis yang bersifat horizontal. Puasa membawa ajaran untuk mengembangkan  nilai keseimbangan ruhaniah dan jasadiyah. Dengan kata lain puasa tidak hanya berdimensi ibadah vertikal (menyembah Allah) tapi juga  mengajarkan bagaimana bersikap empatik terhadap derita orang miskin yang sering merasakan lapar karena kemiskinannya.


    Pelajaran atau ibrah yang muncul dari puasa jasadiah ini adalah bagaimana rasanya lapar dan dahaga mempengaruhi perilaku seseorang. sehingga dengan adanya pengalaman secara nyata yang dirasakan ini akan membawa kepada perubahan perilaku yang lebih baik.   Orang yang mau berfikir akan menjadikan  pengalaman  ini sebagai landasan untuk mengembangkan perilaku empatik  terhadap orang-orang miskin yang sering merasa lapar dan dahaga karena kemiskinannya. Secara psikologis perilaku empatik yang muncul karena pengalaman  yang nyata ini akan menghindarkan seseorang dari perilaku pelit, congkak, sombong atau takabur. Sebaliknya akan membawa seseorang pada perilaku syukur, kona’ah dan tawadu’, suka bersedekah, menjadi penyayang dan tahu diri. Puasa seharusnya melahirkan manusia-manusia yang berbudi pekerti luhur, ditunjukkan dengan sikap empatik, simpatik, jujur, adil, tenggang rasa, ramah, belas kasih, menghargai orang lain, suka bersedekah, lebih giat beribadah dan lain-lain. Sedangkan pada aspek ruhuhiyahnya hanya Allah yang berhak menilai.


    Dengan demikian di antara hikmah penting dari ibadah puasa ramadhan adalah mendidik umat untuk mampu menjaga dan menjalani kehidupan bersama yang damai, cerdas secara sosial, berkeseimbangan antara perilaku duniawiah dan ukhrowiyahnya , tidak membeci pemeluk agama yang berbeda, sehingga idialitas masyarakat yang  baldatun toyyibatun warobbul ghofur dapat terwujut dalam kehidupan umat.

    Kekeringan Ruhaniah

                Menempatkan puasa sebagai sekolah jiwa  atau madrasah ruhaniyah, sangat tepat bila dikaitkan dengan kondisi kekinian umat yang semakin hari semakin kering dari rasa damai dan tentram. Kejahatan korupsi, terorisme, manipulasi, penipuan dan penyebaran berita berita bohong dan  fitnah adalah fenomena kefasikan karena keringnya rohaniah manusia. Umat tengah menghadapi kemarau ruhaniah yang panjang.  Belakangan ini kekerasan seakan telah menjadi bagian terbesar dari kehidupan umat. Di rumah, di jalan, di sekolah, di kantor dan di manapun umat berada kekerasan seakan-akan menjadi   hal yang dilumrahkan karena sudah terbiasanya  manusia melakukan kefasikan-kefasikan itu, sehingga seakan akan menjadi new normal dalam perilaku dan kehidupan sehari-hari, dan celakanya hal itu tidak hanya dilakukan orang dewasa, anak-anak pun melakukannya. Dengan kata lain kekerasan, kejahatan, kedzoliman tidak lagi hanya dilakukan oleh para penjahat tetapi juga dikerjakan oleh orang-orang yang bukan penjahat.     


    Di sinilah urgensi terpenting menempatkan puasa sebagai sekolah jiwa, sehingga umat benar-benar terselamatkan dari kebodohan  dan kemuliaan yang semu serta mampu bertahan dalam menghadapi penderitaan, tidak mudah putus asa ketika  derita dan ujian menghadangnya.  Hal inilah yang seharusnya menjadi indek prestasi kumulatif bagi alumni madrasah ruhaniah yang bernama ‘puasa’.


    Melihat persoalan yang demikian ini, maka sudah tiba waktunya untuk melakukan pembenahan kembali terhadap pemahaman tentang esensi dan substansi puasa ramadhan. Di tengah menurunnya nilai nilai moral dan kemuliaan ahlak, bagaimana umat dan seluruh komponen anak bangsa dapat menemukan dan membangun kembali spirit ramadhan yang bergairah dan penuh makna ? Kata kunci jawaban dari pertanyaan ini adalah menjadikan puasa sebagai madrasah ruhaniyah yang bertujuan untuk memajukan ruhaniah manusia yang dengan mudah melakukan dosa , menjadi ruhani yang berdaya tahan tinggi terhadap godaan-godaan duniawi. Hanya jiwa-jiwa yang cerdas saja yang akan mampu menjadikan puasa sebagai pendidikan ruhaniahnya. Marhaban ya Ramadhan. Kami rindu kesyahduan  dan bau harummu. Selamat menjalankan ibadah puasa ramadhan . Semoga Allah menjadikan kita semua sebagai hamba hamba yang mempnyai jiwa-jiwa yang cerdas dan mulia.

    Komentar
    Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
    • Mengapa Harus Berpuasa

    Terkini