Pondok Pesantren (Ponpes) Zumrotut Tholibin merupakan pondok tertua di Boyolali. Berdiri 1906, ponpes ini ikut berperan dalam membantu kemerdekaan Indonesia. Dan pernah menjadi korban kekerasan Partai Komunis Indonesia (PKI).
Menginjak usia 117 tahun, ponpes Nadhatul Ulama (NU) ini masih tetap eksis. Pendiri ponpes KH. Zuhdi yang mengabdikan diri dari 1906 -1946 telah mewariskan ajaran luhur kepada generasi penerus. Kini, kepengurusan yayasan pendidikan Islami di Dusun Karangjoho, Desa Mojo, Kecamatan Andong ini dikelola generasi keempat.
Sosok Kiai Zuhdi dan sang istri Nyai Siti ‘Aisyiyah memang tak bisa lepas dari keberlangsungan ponpes ini. Saat bujang, kiai asli Toroh, Grobogan ini selesai berlajar ilmu agama di Ponpes Wirosari, Grobogan. Hijrahlah dia menuju Desa Kacangan, Andong. Sesuai perintah sang guru, dia diminta mengajarkan agama Islam pada masyarakat yang mayoritas masih abangan.
Sang kiai berjalan menuju selatan. Hingga sampailah ke pondok Mbah Saniman, warga Kacangan, Andong. Ada langgar kecil dari kayu yang dijadikan pusat mengaji. Perkembangan Islam saat itu disambut positif. Tak lama, pamannya, Kiai Thoyib, naib pertama yang tinggal di Karangjoho, Desa Mojo, memintanya tinggal di sana. Kiai Zuhdi muda mendapat hibah petak tanah sekitar 3,5 ribu meter persegi dari tokoh setempat Mbah Muhsin.
“Tanah tersebut lantas dibuatkan Masjid Rodhotut Sholihin. Keseluruhan bangunan masih kayu, wong itu zaman sebelum merdeka, sekitar 1906. Baru Mbah Kiai Zuhdi mendirikan bedeng -bedeng bambu (kamar bambu, Red) untuk para santri mengaji,” tutur Anshar Budiyono, buyut Kiai Zuhdi sekaligus wakil ketua yayasan pengelola Ponpes Zumrotut Tholibin.
Perkembangan ponpes ini cukup pesat. Banyak santri dari luar daerah berdatangan. Bahkan hingga luar Jawa. Ponpes yang dikenal dengan nama Pesantren Kacangan di Mojo ini fokus pada pembelajaran keagaaman. Mulai dari ilmu Nahwu Sharaf, Fiqih, Tafsir, ilmu Asror dan laduni serta lainnya. Beberapa santrinya yang terkenal, seperti Mbah Siroj yang dimakamkan di Pracimaloyo, Makam Haji, Mbah Mansur hingga Mbah Khasan Mukmin.
Tak hanya menjadi pusat mengaji santri. Ada dua catatan penting sejarah yang terjadi di ponpes Kiai Zuhdi. Mendukung kemerdekaan Indonesia dan sempat menjadi korban Partai Komunis Indonesia (PKI) sekitar 1960-an. Jelang kemerdekaan, ponpes menjadi markas tentara-tentara Islam Indonesia. Ini terinspirasi dari semangat resolusi jihad yang digaungkan pendiri NU K.H. Hasyim Asy’ari.
“Pada zaman Belanda di sini dianggap markas tentara Hizbullah, tentara Islam yang waktu itu komandonya resolusi jihad. Jadi zaman Belanda ponpes ini pernah dibom. Ketika sudah merdeka, di zaman PKI juga dibakar. Saat saya masih kecil, saya masih lihat bekas-bekas pembakaran. Puing-puingnya yang terbakar terlihat,” terangnya.
Bahkan, banyak santri-santri senior yang hilang saat masa PKI. Salah satunya, anak dari Mbah Muhsin, tokoh setempat. Perjuangan Kiai Zuhdi ini tak lepas dari peran istrinya, Nyai Siti ‘Aisyah. Dengan sabar, nyai mendampingi Kiai Zuhdi mengurus ponpes. Termasuk menyediakan makan dan minum bagi santri. Kala itu, mondok di ponpes tak dipungut biaya. Belum lagi, pembangunan ponpes dilakukan mandiri. Sikap karismatik dan penyayang membuat ponpes selalu ramai.
Nyai Siti ikut serta mengajari ngaji. Utamanya santri putri. Mendampingi sang suami dari nol, tanpa pamrih. Hanya berbekal sabar. Lalu pada 1946, Kiai Zuhdi wafat di usia 70 tahun. Dia memiliki tujuh anak, Bhulkin, Thowaf Muslim dan lainnya. Kepengurusan ponpes diserahkan kepada anak-anak serta menantunya dari tiga istri yang ditinggalkan. Generasi kedua dipegang oleh sang anak Thowaf Muslim dan Ali Muhammad.
“Masa Mbah Thowaf, dikembangkan lembaga ini. Dari ponpes keagaamaan, menjadi yayasan ponpes dengan dilengkapi pendidikan formal pada 1975. Lalu didirikan MA Al Azhar dilanjutkan dengan MTs Ma’arif. Lalu ada diniyahnya, dari ula, wustha dan aliyah. Rentangnya lumayan lama, karena waktu itu kegiatannya pesantren murni. Dari situ, beralih nama dari Pesantren Kacangan menjadi Ponpes Zurotut Tholibin, diartikan perkumpulan pelajar,” terangnya.
Kepengurusan diteruskan generasi ketiga atau cucu Kiai Zuhdi. Yakni, Kiai Muslim Khoiri dan Suparman Sayuti. Lalu dilanjutkan ke generasi keempat dari cucu dan buyutnya, yakni Khorul Hadi, Anshar Budiyono serta pembina Jamaluddin. Perkembangan pesantren diteruskan. Hingga kini, Ponpes Zumrotut Tholibin memiliki 500 santri. Dari usia MTs dan MA. Bahkan dari lahan 3,5 ribu meter persegi, kini menjadi dua hektar.
“Cucu dan buyut beliau juga mendirikan pesantren di sekitar sini. Seperti Ponpes Darussholihat, Ushubul Ilmi, Darussholihin, Cengkir Kuning dan Madrosatul Quran, juga Zumrotut Tholibin. Mereka bersekolah di MTs Ma’arif dan MA Al Azhar. Bahkan jumlah siswa mencapai 1.600 santri,” terangnya.
Ubah Kurikulum sesuai Perkembangan Zaman
Pengurus yayasan sekaligus pengajar di MA Al Azhar Hanif menuturkan, ada 65 pengajar di sekolah formal. Sedangkan pengajar diniyah ada sekitar 10 orang. Di antaranya merupakan santri yang sudah lulus, namun mengabdikan diri. Saat ini, MA dan MTs di bawah Yayasan Zumrotut Tholibin bermetamorfosis menjadi yang terbesar di Kota Susu.
Fasilitas lainnya, adanya gedung vokasi hasil kerja sama dengan balai latihan kerja (BLK) Boyolali. Terutama dalam mengasah skill di bidang komputerisasi, desain, dan lainnya. Lulusan dibekali skill untuk berwirausaha sekaligus bekal keagamaan. Rinciannya, 50 persen lulusan melanjutkan pendidikan formal atau kiliah, sisanya ada yang berwirausaha, bekerja dan melanjutkan pengabdian tahfidz di ponpes.
Pendidikan di ponpes juga padat. Santri bangun pukul 04.00 untuk menjalankan Salat Subuh. Kemudian dilanjutkan mengaji sampai pukul 06.00. Lalu 07.00 mulai belajar di sekolah formal sampai 14.30. Selama satu jam setelahnya, bisa dimanfaatkan untuk istirahat sekaligus melatih hafalan bagi tahfidz.
Lalu, mulai 15.00 menjalankan salat Asar berjamaah. Dilanjutkan dengan diniyah sampai waktu magrib. Setelah Magrib berjamaah, dilanjutkan mengaji hingga isya. Baru pembelajaran diniyah lagi hingga pukul 22.00. Setelahnya santri mengerjakan tugas di sekolah formal dan dilanjutkan istirahat. Menurutnya, tantangan saat ini lebih kepada pembentukan karakter dan akhlak santri.
Sejarah Ponpes
- Didirikan oleh Kyai Zuhdi pada 1906.
- Generasi pertama 1906-1946 dipegang Kiai Zuhdi dan istri pertama Nyai Siti ‘Aisyah.
- Sebelum kemerdekaan digunakan sebagai markas tentara Hizbullah.
- Pernah dibom dimasa perjuangan kemerdekaan dan dibakar dimasa PKI.
- Santrinya ada yang hilang dan tidak diketahui keberadaannya hingga sekarang saat pemberontakan PKI.
- Generasi kedua dari 1946 dipegang oleh Thowaf Muslim dan Ali Muhammad.
- Pembentukan Yayasan Zumrotut Tholibin sesuai akta notaris pada 18 Desember 1975.
- Generasi ketiga dipegang oleh Kyai Muslim Khoiri, Suparman Sayuti yang merupakan cucu Kyai Zuhdi.
- Generasi keempat atau sekarang dipegang oleh cucu dan buyutnya, yakni Khorul Hadi, Anshar Budiyono serta pembina Jamaluddin.
Perkembangan
– Memiliki 500 santiwan dan santriwati.
– Memiliki lima ponpes lain yang berafiliasi dengan sekolah formal, MA Al Azhar dan MTs Maarif.
– Jumlah siswa yang belajar di MA dan MTs di bawah yayasan mencapai 1.600 santri.
– MA dan MTs swasta terbesar di Kota Susu.
– Memiliki 65 pengajar sekolah formal dan 10 pengajar diniyah.
– Selain bekal keagamaan dan akhlak, ponpes juga membekali dengan keterampilan.