Drs. Soleh Amini Yahman.
MSi.Psikolog
Dosen Universitas
Muhammadiyah Surakarta
Dalam
perspektif atau sudut pandang psikologi Islam, olah raga bukanlah sekedar
mengolah badan agar menjadi bugar semata, tetapi jauh daripada itu oleh raga
ditempatkan pula sebagai suatu aktivitas olah badan sekaligus oleh bathin atau
olah jiwa, sehingga dengan olah raga tersebut akan dihasilkan kebugaran
jasmaniah dan kebugaran rohaniah yang seimbang. Dengan terciptnya keseimbangan
kesehatan jasmani dan rohani ini maka slogan
dalam olah raga yang berbunyi “didalam badan yang kuat terdapat jiwa
yang sehat” akan benar-benar dapat terwujut.
Kecanggihan inovasi teknologi dalam berbagai
dimensi kehidupan pada masa dewasa ini membuat dunia olah raga tidak dapat lagi
hanya mengandalkan pada bakat, kekuatan, kecepatan, latihan-latihan fisik saja
guna meningkatkan prestasi atlet dan derajat kesehatan masyarakat. Salah satu
faktor lain yang harus dipertimbangkan
dan diperhitungkan adalah pemenuhan aspek psikologi dalam berolah raga,
yakni pemupukan rasa percaya diri, kebersamaan, pengakuan, jaminan masa depan,
yang kesemuanya itu bisa memberikan ketenangan bathin pada pelaku olah raga
atau atlet. Dalam perspektif saya sebagai psikolog, kegiatan oleh raga yang
dilakukan oleh masyarakat kita terbagi dalam dua motivasi, yaitu motivasi untuk
mencapai prestasi (menjadi juara) dan olah raga yang bersifat rekreatif ( untuk
sosialisasi, lobbi, hobby, kesehatan, katarsis dan sebagainya).
Agama
islam sangat menganjurkan umatnya untuk melakukan aktivitas beroleh raga,
bahkan dalam gerakan sholat yang setiap hari dilakukan oleh umat islam ternyata
bukan sekedar mengandung aspek spiritual saja tetapi juga mengandung aspek olah
raga ini. Sholat yang dilakukan secara tertip, benar dan tumakninah, tidak
hanya akan memberikan kebugaran ruhaniah (tenang, tenterem, ayem) tepi juga sekaligus
menciptakan kebugaran fisik yang nyata.
Dengan
melakukan olah raga secara benar, sesuai
dengan porsi dan aturan , insya allah akan terbentuk insan-insan yang sehat
secara jasmani dan rohani. Melalui olah raga seseorang diajarkan bagaimana ia
dapat mengendalikan emosinya, mengatur afeksinya, memfungsikan fungsi
kognitifnya, serta dilatih untuk memberdayakan potensi-potensi rohaniah yang
lainnya seperti ketaatan pada aturan, semangat pada sportifitas, dididik
menjadi kestraia, kedisiplinan, berkompetisi secara sehat, kekompakan pada
team, menghargai kemenangan atau kekalahan. Jika ada orang yang mengamuk karena
kalah dalam suatu pertandingan olah raga tertentu, itu pertanda olah raganya
baru sampai pada tataran olah raga fisik , belum menyentuh pada olah raga
bathin, sehingga nilai-nilai luhur dari kegiatan olah raga sebagai tersebut
diatas, belum terinternalisasi dalam diri orang tersebut. Oleh karena itu oleh
raga yang benar dan baik adalah jenis olah raga yang memadukan aspek olah
fisik, olah rasa dan olah jiwa.
Manfaat
Berolah Raga.
Dalam perspektif Psikologi Islam, ada tiga
fungsi utama dari kegiatan berolah raga. Pertama adalah menjaga diri (self
defense). Dengan berolahraga fisik seseorang menjadi kuat. Latihan yang kontinu
dan teratur akan memunculkan manfaat
kebugaran, dan energi agar bisa membela diri dari serangan musuh. Pembelaan dan
penjagaan diri adalah tuntunan dasar. Mempertahankan nyawa adalah satu dari
kelima hak yang dilindungi dalam Islam (dharuriyat al-khamsah).
Kedua, menjalin dan mengembangkan tali
silaturahmi antara sesama manusia. Kompetisi, pertandingan, perlombaan olah
raga yang banyak dilakukan oleh masyarakat dalam berbagai skala, dari
pertandingan olah raga tingkat RT/RW, Nasional atau bahkan tingkat dunia ,
selain sebagai wujut aktualisasi diri sendiri, bangsa atau kelompok/club olah raga untuk menjadi
yang terbaik, juga dimaksudkan untuk membangun ikatan silaturahmi, paseduluran
sehingga dari kegiatan pertandingan olah raga itu muncul kekompakan bukan
pergolakan dan pertikaian. Olah raga akan meningkatkan ukhuwah atau persatuan,
jika dilakukan semata mata untuk tujuan olah raga itu sendiri. Munculnya
kekisruhan dalam berbagai pertandingan olah raga , tiada lain penyebabnya
adalah karena tujuan olah raga itu telah diselewengkan sedemikian rupa untuk tujuan yang bukan sebenarnya.
fungsi olahraga yang ketiga adalah menjaga
kesehatan tubuh. Fisik yang sehat adalah anugerah tak terkira dari sang khalik.
Karunia itu harus tetap dijaga sebagai bentuk syukur. Ada banyak cara menjaga
tubuh agar tetap bugar dan sehat, seperti asupan gizi dan nutrisi yang cukup.
Selain itu, olahraga merupakan cara yang jitu. Dengan berolahraga, aliran darah
lancar dan metabolisme tubuh menjadi seimbang.
Sholat dan Olah Raga
Sholat
sebagai salah satu ritual ibadah islam yang setiap hari wajib ditegakkan oleh
umat islam, ternayata tidak hanya mengandung nilai-nilai spiritual saja, tetapi
juga mempunyai aktivitas fisikal untuk mengendorkan badan dan jiwa dari segala
ketegangan serta menumbuhkan perasaan kedamaian dan kepuasan, shalat juga
mempunyai hikmah untuk mengatasi gangguan-gangguan kejiwaan pada umumnya dan
gangguan-gangguan kecemasan pada khususnya, karena didalam shalat mengandung
aspek olah raga, aspek meditasi, aspek autosugesti dan aspek
kebersamaan.
Menurut
Prof.Dr.Djamaludin Ancok dan Arief Wibisono Adi (1984, 1985) shalat yang
sifatnya isotonik mengandung unsur badan dan jiwa serta menghasilkan bio-energi, sebetulnya mempunyai efek
mengurangai kecemasan yang lebih nyata dan lebih besar bila dibandingkan dengan
olah raga senam biasa yang sifatnya isometrik, terutama hanya menyangkut unsur
badan saja dan bahkan mengeluarkan energi. Dengan dihasilkannya bio-energi pada
shalat itu maka individu yang mengerjakan
sholat dengan sungguh-sungguh akan dapat mencapai equilibrium atau keseimbangan pada badan/fisik dan
jiwanya sehingga menghasilkan rasa tenang dan harmoni pada pribadi orang
tersebut, dalam arti tidak mudah stress, tidak gampang terjangkit penyakit dan
daya tahan tubuh yang kuat.
Olah Raga Dalam Puasa
Tidak
kurang dari satu bulan lagi kita semua akan memasuki bulan ramadahan 1444 H,
bulan puasa wajib bagi umat Islam. Masihkan perlukah berolah raga di saat kita
berpuasa ? Puasa ramadhan atau saum
sebagai ibadah wajib bagi umat islam tidak boleh dijadikan sebagai alasan
pembenar untuk tidak berolah raga. Salah satu hakekat puasa adalah mengolah
bathin manusia agar peka terhadap persoalan-persoalan kemanusian dan
kemasyarakatan . Bahkan dalam perpektif kesehatan puasa juga merupakan sarana
olah fisik untuk menuju kehidupan biologis yang lebih sehat.
Secara biologis puasa memang sedikit
banyak akan mempengaruhi jam biologis dan mekanisme metabolisme tubuh, tetapi
itu sifatnya hanya sementara. Setelah tubuh berhasil beradaptasi dengan kondisi
berpuasa tersebut, maka dengan sendirinya jam biologis dan mekanisme
metabolisme tuibuh akan kembali normal seperti ketika kita belum menjalankan
puasa sebulan penuh. Oleh karena itu sangat tidak benar bila orang berpuasa itu
hanya tidur-tiduran melulu dengan alasan untuk menghemat energi dan malas
melakukan aktivitas kera atau berolah raga. Mengurangi porsi kerja atau berolah
raga boleh lah, yang tidak boleh adalah menghentikan aktivitas kerja atau olah
raga sama sekali.. Salah satu rahasia memperoleh kebugaran tubuh selama
menjalankan puasa adalah mengkonsumsi makanan dan meniman dengan gizi seimbang
dan olah raga yang teratur. Misalnya setelah subuh berjalan kaki keliling
kampung, senam ringan menjelang ashar, dan jangan lupa sholat tarwih berjamaah
dan tadarus al-quran tetap dijalankan sebagai ibadah sekaligus sebagai olah
raga bathin yang luar biasa.
Mari budayakan hidup sehat karena
sehat adalah gaya Hidup.
Selamat berolah raga.
Semoga bermanfaat.